H. Sugiharto : Berikan Mereka Kesempatan

Cukup lama bersentuhan dengan penggerak ekonomi mikro di wilayah Ibukota Negara, khususnya di daerah Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. H. Sugiharto jadi semakin memahami persoalan dan kendala yang dihadapi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah dari kalangan akar rumput tadi.

Dalam satu kesempatan, www.majalahkoperasi.com menemui pria berkumis yang kesehariannya dipercaya menjadi Ketua Pengurus Koperasi Serba Usaha Tunas Jaya itu di ruang kerjanya yang sejuk dan bernuansa religius.

Berikut ini hasil bincang-bincang dengan tokoh peraih banyak penghargaan di bidang perkoperasian itu.

Bagaimana Anda melihat  peran koperasi dalam kegiatan ekonomi masyarakat sekarang ini?

Sejak dulu hingga sekarang, keberadaan koperasi sudah sangat jelas apa peran dan fungsinya, sistem perundang-undangan dan peraturan yang ada juga sangat jelas mengaturnya, mulai dari pusat hingga ke tingkat kabupaten-kota. Apalagi koperasi juga sering dikaitkan dengan istilah soko guru ekonomi, meskipun kata itu pelan-pelan mulai dihilangkan.

Artinya koperasi tetap bisa menjadi tumpuan harapan bagi masyarakat banyak?

Iya, tapi dalam praktiknya ketika melaksanakan kegiatan usahanya di lapangan koperasi harus  siap berjalan sendirian. Padahal lembaga ini perlu filter yang bisa melindungi kegiatan-kegiatan usahanya dalam melayani kebutuhan masyarakat.

Contohnya?

Kehadiran minimarket di lingkungan pemukiman, misalnya. Meskipun sudah ada peraturan daerahnya tapi dalam pelaksanaannya, ketentuan-ketentuan yang ada seperti tidak punya arti apa-apa. Kondisi seperti ini tentu saja bisa merugikan masyarakat pelaku usaha mikro yang membuka usaha warung rumahan atau gerobakan di sekitarnya, yang kebanyakan modalnya dipinjam dari koperasi. Apalagi kalau  jam buka minimarket tadi sampai dua puluh empat jam. Tahap awal, sudah pasti omzet usaha mikro  menurun, setelah itu tinggal menunggu bangkrutnya saja.

Bagaimana solusinya?

Pemerintah harus meninjau ulang peraturan yang berkaitan dengan pendirian retail atau minimarket tadi. Dulu ada pembatasan, tidak boleh usaha besar menyaingi usaha rakyat, meskipun kepemilikan minimarket bisa dipegang secara perorangan tapi bentuknya dengan cara pembelian francisenya, yang segala kebutuhan pengadaan barang atau produk-produknya tetap dipasok perusahan besar. Kemudian ada pemeriksaan persyaratan dalam pendirian retail atau minimarket, kalau tidak memenuhi syarat ya harus ditutup. Di Jakarta saja, dari info yang saya dapat, dari sekian banyak minimarket yang ada,  baru 30% yang memenuhi persyaratan pendiriannya.

Bagaiman dengan keberadaan hypermarket dan supermarket?

Yang ini apalagi, dilihat dari berbagai sisi, mereka unggul segala-galanya. Mulai dari tempat, suasana, terutama harga produknya. Untuk itu memang harus diberlakukan lagi sistem pelayanan bagi konsumennya, ada pelayanan untuk konsumen biasa dengan harga biasa, ada juga pelayanan khusus bagi pedagang dengan harga lebih murah dan nantinya bisa dijual kembali dengan harga yang sama dengan harga jual di hypermarket dan supermarket tersebut. Dengan demikian, orang tidak harus jauh-jauh datang ke hypermarket atau supermarket hanya untuk membeli beberapa buah produk saja. Mereka bisa membelinya di warung-warung rumahan atau gerobakan karena toh harganya juga sama.

Artinya tetap ada pembagian ruang dan peran?

Betul, kegiatan usaha yang besar dan menengah tetap diberi kesempatan hidup. Usaha mikro dan kecil tetap dihidupkan. Jangan dibiarkan seperti di kebun binatang yang tanpa sekat, masing-masing penghuninya bisa saling menyerang hanya sekadar mempertahankan hidup. Karena itu masing-masing pihak harus duduk bersama untuk membahasnya, bukan hanya menunggu regulasi yang hanya berlaku bagi dunia koperasi saja tetapi juga ke sektor-sektor lainnya. Karena aroma persaingan sekarang ini bukan saja terjadi di perkotaan atau tingkat kecamatan, tetapi sudah masuk ke perkampungan atau perumahan.

Bukankah hypermarket, supermarket dan minimarket sekarang sudah memberikan ruang bagi usaha mikro?

Iya, tapi cukup hanya di parkiranya saja. Dengan menempatkan dua atau tiga gerobak pedagang gorengan atau martabak, mereka bisa berdalih sudah bermitra atau memberikan ruang bagi usaha mikro. Padahal bukan hanya sebatas itu, seharusnya hypermarket, supermarket dan minimarket memberikan space di ruang dalamnya bagi produk-produk usaha mikro dan kecil.

Berarti kembali lagi kepada regulasi?

Begitulah, meskipun terlihat belum ada keberpihakan kepada pelaku usaha mikro dan kecil, setidaknya ada upaya untuk memberikan kesempatan dulu kepada mereka untuk bisa berusaha dan menjalankan usahanya agar tetap bisa hidup dan menghidupi keluarganya.

Menjelang adzan Ashar perbincangan usai. Setelah berpamitan, www.majalahkoperasi.com meninggalkan ruangan yang saat itu, di salah satu sudutnya terletak sebuah televise, sedang menayangkan siaran langsung pelaksanaan ibadah haji di Kota Makkah. Semilir angin sore di wilayah Bendungan Hilir pun menjadi semakin terasa sejuk.

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *