MEMAHAMI PEMIKIRAN KOPERASI BUNG HATTA

“Bung Hatta mengingatkan agar ekonomi bangsa kita kembali ke realitas rakyat (back to people)”.

Bagi Bung Hatta, kemandirian dalam ekonomi akan membuat bangsa kita tidak tunduk pada kekuatan asing. Menurut beliau, utang luar negeri haruslah merupakan pelengkap, bukan yang utama.

Inilah yang sebaliknya terjadi di masa Orde Baru, sehingga utang luar negeri menumpuk tak terkendali. Semua ini terjadi karena para pengambil keputusan di bidang ekonomi kita, termasuk kaum intelegensianya, tidak memiliki karakter yang mementingkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan kelompok atau dirinya sendiri.

Terjadinya kondisi yang berkonsekuensi pada krisis ekonomi berkepanjangan sejak tahun 1979 itu dilandasi oleh perasaan rendah diri kaum pengambil keputusan ekonomi tersebut terhadap kemauan pihak (donor) asing. Bung Hatta senantiasa memegang teguh “cita-cita menjadi tuan di negeri sendiri”  yang tercermin pula pada keluhan Bung Hatta kepada Mochtar Lubis.

Bung Hatta,”… betapa lemahnya kita sekarang melindungi perdagangan dalam negeri kita, yang seharusnya berada dalam tangan bangsa Indonesia sendiri…”

Secara makro, beberapa postulasi dari keteladanan sikap dan pemikiran Bung Hatta yang sangat relevan saat ini.

Pertama, kedaulatan rakyat dan kolektivisme hanya bisa berjalan lancar bila didampingi oleh demokrasi ekonomi. Pilar utama dalam mewujudkan demokrasi ekonomi, kata Bung Hatta, terletak pada koperasi. Koperasi harus menjadi sokoguru perekonomian jika perekonomian nasional ingin tangguh dari berbagai guncangan. Koperasi merupakan kekuatan sejati dan riil perekonomian rakyat (Daulat Ra’jat, No 12/1932).

Kedua, dalam bidang produksi, Bung Hatta mengemukakan, petani kita tidak mempunyai hubungan dengan pasar. Semua barang hasil panennya terpaksa diserahkan kepada perantara kaum saudagar asing yang mempunyai modal dan akal. Harga ditetapkan oleh para saudagar bukan petani. Karena saudagar sudah menjadi lintah darat di desa, petani hanya tukang tanam. Dengan sistem mindering, kaum saudagar sudah mempunyai hak milik atas tanaman petani yang masih di pohonnya. Demikian nasib rakyat selaku produsen yang terus dieksploitasi dan dipinggirkan (Daulat Ra’jat, No.66/1933).

Dua postulasi pemikiran Bung Hatta ini menandaskan, kemandirian ekonomi menjadi rasion d’etre. Rakyat sebagai pelaku ekonomi, baik sebagai produsen maupun konsumen, lebih mengetahui tentang kebutuhannya.

Masyarakat kita adalah masyarakat yang telah lama mengenal prinsip gotong-royong, kekeluargaan dan kebersamaan. Berat sama dipikul ringan sama dijinjing, itulah falsafah sejati masyarakat kita.

Namun prinsif dan falsafah itu berangsur hilang dan digeser oleh keinginan prinsip yang serba instan. Kita tidak mau sabaran untuk berpijak pada realitas kita. Makanya, dengan prinsip serba instan, pinjaman asing pun digedor untuk segera membantu memulihkan kemiskinan kita. Semuanya kita gadaikan, bahkan harga diri kita pun sudah hilang dan diserahkan ke bangsa asing untuk kebutuhan pendanaan jangka pendek tapi berakibat fatal pada ketergantungan jangka panjang.

Demi tuntutan ekonomi, pasar diliberalkan dan serta merta kapitalisme global segera berduyun-duyun datang. Bangsa digadaikan demi tuntutan perut dan lama kelamaan kita tidak mempunyai jatidiri dan martabat di depan bangsa asing.

Kita sudah ketinggalan serta malu pada negeri jiran Malaysia, Thailand, Vietnam, Filipina, India yang sudah melewati kita. Bangsa-bangsa itu memiliki kepribadian, jatidiri dan martabat, sementara ekonomi bangsa kita ditelanjangi dan diserahkan sepenuhnya kepada kapitalis asing.

Karena itu, Bung Hatta mengingatkan agar ekonomi bangsa kita kembali ke realitas rakyat (back to people). Koperasi merupakan perkumpulan ekonomi rakyat yang harus kita hidupkan. Koperasi merupakan kepribadian dan jatidiri ekonomi bangsa. Falsafah gotong-royong dan kekeluargaan menjadi prinsip utama koperasi. Dengan kekuatan ekonomi riil tersebut, bangsa kita tidak perlu merengek-rengek lagi di hadapan para saudagar asing untuk minta pinjaman.

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *