SUGENG WIRYAWAN : ADA BANK KOPERASI SKALA NASIONAL

www.majalahkoperasi.com awal Oktober lalu, usai shalat Jumat, dapat kesempatan berbincang dengan Area Manager Koperasi Simpan Pinjam Sejahtera Bersama Cabang Ciledug Tangerang, Sugeng Wiryawan di pusat kuliner  yang pemiliknya menjadi anggota koperasi tersebut.

Berikut hasil  perbincangan dengan lelaki yang juga menjadi anggota dari paguyuban Sugeng itu, seputar ide, gagasan dan keinginannya demi kemajuan dunia perkoperasian di Indonesia.

Apa yang menjadi keinginan Anda selama berkecimpung di perkoperasian?

Keinginan saya tentu saja koperasi harus benar-benar secara nyata memberikan manfaat kepada anggotanya.  Artinya, koperasi memberikan keuntungan sebesar-besarnya untuk anggota. Untuk bisa mencapai semua itu, koperasi memang harus dikelola seperti perbankan, ya tampilan fisik gedungnya, pelayanan, manajemen dan hal-hal lain yang membuat koperasi bisa tampil minimal sama dengan apa yang ditampilkan bank, dengan begitu koperasi tidak akan lagi disepelekan karena koperasi kan soko guru ekonomi bangsa, seharusnya koperasi harus bisa di atas bank. Bedanya, jika bank memberikan keuntungan sebesar-besarnya bagi pemilik saham  tetapi di koperasi justru keuntungan akan dikembalikan lagi kepada anggotanya.

Kondisi koperasi sekarang yang Anda lihat seperti apa?

Sudah waktunya insan-insan koperasi berani menunjukkan kemampuan dirinya yang bisa disejajarkan dengan kemampuan mereka yang bekerja di dunia perbankan. Jangan bersikap malu-malu terus karena dari hasil kerja para penggiat koperasilah, masyarakat banyak yang merasa terbantu jika menghadapi persoalan berkaitan dengan keuangan atau permodalan. Apalagi koperasi mempunyai kelebihan yang tidak didapati di perbankan, dimana antara pengurus dan anggotanya bisa saling berkomunikasi, memberikan saran atau masukan dengan suasana keakraban saat Rapat Anggota Tahunan yang dilakukan secara tatap-muka langsung atau lewat e-RAT dengan memanfaatkan teknologi yang ada, maupun di kesempatan-kesempatan lain.

Apakah ada hal-hal lain yang harus diperhatikan insan koperasi?

Kemauan untuk terus belajar karena itulah kuncinya. Walaupun di awal-awalnya meniru langkah-langkah yang diterapkan perbankan dalam hal penampilan, pelayanan, manajemen dan yang lainnya. Tapi untuk selanjutnya, insan koperasi harus punya kemampuan untuk melakukan inovasi sesua jatidiri koperasi. Harus banyak mengikuti pendidikan, pelatihan setara perbankan, bila perlu ditambahkan dengan ide-ide besar untuk lebih punya nilai dan kualitas.

 

Adakah kendala yang sering ditemui dalam upaya memajukan koperasi?

Biasanya soal sosialisasi koperasi itu sendiri. Semestinya harus ada upaya untuk menyampaikan informasi sebanyak-banyaknya kepada masyarakat mengenai manfaatnya menjadi anggota koperasi. Jika informasi yang disampaikan sedikit bahkan tidak ada sama sekali, tentunya apa yang sudah dikerjakan oleh koperasi menjadi tidak terlihat atau terdengar, bahkan mungkin kesannya bisa menjadi sia-sia. Untuk itu, koperasi harus berani melakukan promosi secara berkesinambungan, seperti halnya perusahaan atau lembaga lain yang meskipun sudah sangat dikenal tapi tetap mempromosikan diri untuk terus bisa terjaga namanya. Koperasi yang saya maksud di sini adalah koperasi yang berjalan di atas relnya, dikelola sesuai azas dan jatidiri koperasi.

Maksudnya?

Kadang-kadang ada juga yang memanfaatkan koperasi untuk kepentingan pribadi, akibatnya timbul citra negatif di masyarakat. Seolah-olah mengatas-namakan koperasi tetapi dalam pelaksanaannya tidak sesuai dengan jatidiri koperasi. Misalnya bertindak seperti rentenir karena memberikan pinjaman dengan jasa yang tinggi atau bagi hasil yang tidak sesuai logika.

Dengan kondisi seperti itu, apa yang Anda harapkan dari pemerintah?

Harus ada peraturan atau perundang-undangan yang secara tegas mengatur dan pemberian sanksinya. Tanpa itu, nanti akan tetap ada dan bisa berulang. Begitu juga untuk menjamin rasa aman bagi anggota koperasi, pemerintah juga segera membentuk Lembaga Penjamin Simpanan Koperasi (LPSK), yang sudah dibahas sejak lama tetapi nyatanya belum juga dikeluarkan. Sebagai insan koperasi, saya berharap pembahasan mengenai pembentukan LPSK ini jangan terlalu lama.

Sepertinya waktu Anda memang untuk dunia perkoperasian?

Iya, sejak dulu kehidupan saya banyak bersentuhan dengan dunia koperasi. Sekalipun berangkatnya dari sebuah bank perkreditan rakyat tapi makin ke sini justru pekerjaan saya makin dekat dengan koperasi.  Ibarat kata, seratus persen waktu saya digunakan untuk perkoperasian. Kelihatannya seperti berlebihan tapi kenyataannya memang seperti itu dan saya suka melakukannya.

Apa mimpi Anda jika bicara perkoperasian?

Saya ingin ada bank sentral koperasi atau bank koperasi skala nasional. Dimana koperasi bisa sekelas perbankan yang memiliki banyak cabang di seluruh Indonesia. Punya jaringan anjungan tunai mandiri di mana-mana dan bisa bertransaksi secara online. Karena koperasi punya anggota yang jumlahnya hingga jutaan, jika dilihat dari sisi ekonomi potensi itu menjadi sangat menarik.

 

Setelah berbincang cukup lama, ditemani beberapa porsi menu sajian istimewa bikinan chef istana, perbincangan pun usai. Diujung pertemuan, lelaki yang mengaku masih sering belajar seputar dunia marketing dengan mengikuti pelatihan di banyak tempat dengan intsruktur-instruktur handal, menyampaikan harapannya. Semoga dunia perkoperasian di negeri ini akan semakin terus berkembang sesuai jatidirinya.

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *